Home Agama Fiqih: Hukum Membayar Hutang

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ustadz Navis yang saya hormati. Dulu, saya memiliki teman yang sangat membutuhkan uang karena belum bekerja, sehingga saya bersedia meminjamkan uang saya kepadanya. Dan la berjanji akan membayar hutangnya tersebut.

Pada suatu hari, saya mendapat infarmasi kalau ia sudah memiliki pekerjaan yang cukup layak dan memiliki uang. Karena tempat tinggal kami berbeda kota, maka saya mencoba untuk menanyakan kabarnya sekaligus mengingatkan akan hutangnya melalui handphone. Dan menyarankan untuk membayar hutangnya melalui transfer bank, karena saat itu saya sangat membutuhkan uang tersebut. Namun, ia enggan untuk membayar hutangnya tersebut. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Bagaimana tata cara menagih hutang dalam islam?
  2. Saya sudah mengingatkan teman saya tersebut hingga tiga kali, namun tetap tidak mau membayarnya. Apakah cara saya salah? Dan bolehkah saya menagih hutang tersebut lagi dilain waktu?
  3. Bagaimana hukumnya menunda hutang tersebut?

Demikian pertanyaan saya, atas perhatian dan jawaban Ustadz Navis, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Nana

Sidoarjo

Jawaban:

WalaikumsalamWr.Wb.

Ukhti Nana yang saya hormati.

Hutang adalah kewajiban sesame manusia yang harus dibayarkan. Allah SWT tidak akan mengampuni dosa seseorang yang masih punya tanggungan hutang atau hak adami. Bahkan ruhnya masih tergantung antara langit ketika meninggal dunia kalau hutangnya belum dibayar atau belum diikhlaskan oleh yang menghutangi.

Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW:
“Ruh seorang mukmin yang meninggal dunia akan terus menggantung selama hutangnnya belum dilunasi.” (HR.Turmudzi)

Ukhti Nana. Baiklah pengasuh jawab pertanyaan Anda:

1. Cara menagih hutang dalam tuntunan Islam, diantaranya sebagai berikut:

jika yang punya hutang mempunyai iktikad baik, maka hendaknya menagih dengan sikap yang lembut penuh maaf. Boleh menyuruh orang lain untuk menagih utang, tetapi terlebih dahulu diberi nasihat agar bersikap baik, lembut dan
penuh pemaaf kepada orang yang akan ditagih. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi,Hakim).

Allah SWT akan memberikan kasih sayangnya kepada orang yang bermurah hati ketika menagih utang. (HR. Bukhori).

Bahkan sangat baik kalau kemudian mengikhlaskanya dan mesedakahkanya. Karena menyedekahkan hutang terhadap orang yang menemui kesulitan atau kesukaran mengembalikannya, itu lebih baik.

“… Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah:280).

Tapi juga boleh menagih dengan agak “keras”. Hal ini sebagaimana hadits dan

Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, berkata:

Seseorang menagih hutang kepada Rasulullah SAW, sampai dia mengucapkan kata-kata pedas. Maka para sahabat hendak memukulnya, maka Nabi SAW berkata, “Biarkan dia. Sesungguhnya si empunya hak, berhak berucap. Belikan untuknya unta,kemudian serahkan kepadanya”.
Mereka(para sahabat) berkata, “Kami tidak mendapatkan, kecuali yang lebih bagus dan untanya”.
Nabi SAW bersabda,“Belikan untuknya, kemudian berikan kepadanya. Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang paling balk dalam pembayaran”.
(Shahih Bukhari, kitab Al-istqradh, no.2390)

2. Anda tidak salah.

Karena kewajiban orang yang punya piutang mengingatkanya dan menagihnya. Dan tetap boleb menagih lagi dilain waktu. Bahkan kalau memang ada unsur kesengajaan dia tidak mau bayar sedangkan dia sudah punya untuk membayarnya, maka anda boleh menyita harta miliknya. Hal ini sesuai hadits dari
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW;

Barangsiapa yang mendapatkan hartanya pada orang yang telah bangkrut, maka dia lebih berhak dengan harta tersebut dari yang lainnya”. (HR. ibnu Majah, bab Al-Habs fiddin wal Mulazamah, no.2427)

3.Menunda hutang bagi orang mampu itu haram dan kedzaliman.
Hal ini berdasarkan dalil berikut ini:

Menunda-nunda hutang padahal mampu adalah kezaliman. (HR. Thabrani, Abu Dawud).

Barangsiapa menunda-nunda pembayaran hutang, padahal ia mampu membayarnya, maka bertambah satu dosa baginya setiap hari. (HR. Baihaqi).

Ukhti Nana. Piutang Anda yang ada di teman Anda, boleh Anda tagih sampai dia
membayar kalau dia memang mampu dan Anda membutuhkan. Tapi kalau Anda mengikhlaskan dan mensedekahkanya, tentu itu lebih balk. Semoga kita selamat dan terlilit hutang. Amiin ya Rabbal alamlin.

 

Incoming search terms:

  • hukum membayar hutang
  • menagih hutang dalam islam
  • utang piutang dalam islam
  • kewajiban membayar hutang dalam islam
  • hukum menagih hutang
  • hukum membayar hutang menurut islam
  • hutang piutang dalam Islam
  • cara menagih hutang dalam islam
  • kewajiban membayar hutang menurut islam
  • cara menagih hutang menurut islam
Similar articles