Home Agama Hukum Shalawat Nariyah

Assalamualaikum ustadz yang saya hormati.

Saya Rya di Sidoarjo. Saya mau tanya, apakah benar Shalawat Nariyah ítu shalawat yang dílarang? Karena saya pernah mendengar ínformasí sepertí itu. Dan apakah aliran sufí itu, ustadz? Apakah ajaran sufí ítu juga dilarang?

Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Walaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Ukhti Rya di Sidoarjo yang saya hormati. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW itu disyari’atkan dalam Islam bahkan sangat dianjurkan baik itu oleh ALlah SWT ataupun oleh Nabí Muhammad SAW sendiri.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 56, Allah SWT berfírman : “Sesungguhnya

Allah dan maiaikat-malaikatNya bershalawat kepada Nabi (Muhammad),wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi danucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Begitu juga Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (H.R. al Bukhorí).

Adapun bagaimanakah teks shalawat yang seharusnya, itu tidak ada ketentuan paten dan Rasulullah, karena shaLawat ítu termasuk dalam golongan ibadah muthlaqoh ghoiru muqiyyadah(ritual bebas tak terikat).

Pernah beliau ditanya oleh sahabat, bagaimana kami bershatawat kepadamu wahai Nabí? Rasulullah Cuma mencontohkan teks shatawat singkat “Qul:‘Shollallahu ala Muhammad’.” Dan itu para sahabat seperti Hassan bin Tsabit menggubah shalawat daLam bentuk syair pujian kepada Nabí.

Dan setelah itu banyaklah teks-teks shalawat baik itu datang bentuk syair ataupun prosa. Seperti shaLawat yang dikarang aL-Barzinji, al-Diba’i, al-Bushiry, atau Shalawat Badar,Shalawat Fatih, ShaLawat Munjiyat,ShaLawat Nariyah seperti yang anda tanyakan dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ukhti Rya yang dimuliakan Allah SWT Jadi dalam konteks ini, membaca shalawat itu sangat dianjurkan bahkan kalau dalam tasyahhud harus membaca shalawat dan kalau berdo’a kepada Allah hendaknya diawali dan diakhiri dengan Hamdalah dan shaLawat. Makin banyak membaca shalawat, makin banyak rahmat dan Allah dan syafa’at Rasulillah.

Tentang Shalawat Nariyah yang dipermasalahkan oleh sebagian keLompok islam dan sampai dikatakan syirik bagi yang membacanya, itu bukan membaca shalawatnya tetapi masalah kalimat “bihi” yang terdapat dalam teks Shalawat Nariyah: “Allahumma sholli shalatan kaamilah wasallim salaman taamman ala sayidina Muhammadiniiladzi tanhallu bihi al-uqodu wa tanfariju bihi al
kurobu wa tuqdio bihi al-hawaiju watunalu bihi al-roghoib“

Bihi, di sini artinya ‘dengan Nabí’ atau dengan syafaat Nabí atau bertawassul
dengan Nabi. Nah, bertawassul (perantara) dengan Nabí ini yang sebagian kelompok ulama mempermasalahkan. Mereka mengatakan bahwa berdo’a harus langsung
kepada Allah dan tidak boLeh bertawassul dengan yang selain Allah SWT. KaLau bertawassul dengan selain Allah baik itu batu atau manusia bahkan walau itu Nabi, maka itu syirik. Sedangkan bertawassul dalam berdo’a itu ada yang diperbolehkan dan ada yang dipersilahkan.

Yang diperbolehkan adalah bertawassul dengan Asmaillah Al-Husna dan amal shaleh. Adapun bertawassul dengan Nabí ada yang memperboLehkan dan ada yang tidak memperbolehkan.

Adapun argumentasi ulama’ yang memperbolehkan bertawassul dengan Nabi adalah berdasarkan haditsnya Utsman bin Hanif dalam kasus orang buta yang minta do’a kepada Nabi, kemudian diajari agar supaya berdo’a sebagai berikut:

“Yaa Allahaku bermohon kepada-Mu dan aku menghadap kepada-Mu ‘dengan Nabi’ kita Muhammad, Nabi penyayang. Hai Muhammad sesungguhnya aku menghadap dengan (bertawassul) kepadamu akan Tuhanmu agar Dia memberikan hajatku (yaa Muhammad inni atawajjahu bika ila robbika fayaqdli hajati). Dan sebutlah hajatnya. Kemudian dia men gerjakan petunjuk Nabí dan terlaksanalah hajatnya.”

Dalam hal tawassul ini Ibnu Taimiyah pernah ditanya, apakah boleh bertawassul dengan Nabí? Betiau menjawab:

“Adapun bertawassul dengan iman, cinta, taat,bershalawat, bersalam, berdo’a, bermohon syafaatnya kepada Nabi dan semacamnya yang termasuk perbuatannya dan perbuatan hamba yang diperintahkan dalam haknya,maka itu disyari’atkan dengan kesepakatan kaum muslimin.” (al-Fatawa al-Kubra :1 / 140)

Bershalawat itu memang dianjurkan. Sedangkan membaca Shatawat Nariyah itu yang diperselisihkan. Jika membaca ShaLawat Nariyah sebagai tawassul binnabi namun tetap berdo’a kepada AlLah dan tidak menyekutukannya, sebagian besar ulama memperbolehkanya serta tidak termasuk syirik.

Sedangkan pertanyaan Ukhti Rya yang kedua, baiklah pengasuh akan menjelaskannya. Shufi atau tasawwuf itu adalah mendekatkan diri kepada Allah
melalui penyucian din dan amaliyah amaliyah Islam. Dan memang ada beberapa ayat yang memerintahkan untuk menyucikan din (tazkiyyah al-nafs) diantaranya:

“Sungguh, bahagialah orang yang menyucikan jiwanya” (Q.S. Asy-syam:9)

“Hati jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. Al Fajr: 28-30).

Atau ayat yang memerintahkan untuk berserah din kepada ALLah, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang perintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tema menyerahkan diri (kepada) Allah” (QS. AlAn’am: 162).

Begitu juga hadits nabí yang menjetaskan tentang ‘ihsan’. Yaitu menyembah kepada Allah seakan akan melihatNya. Jika tidak dapat melihat Nya maka Allah yang melihat. Sebagian tidak mau menggunakan istilah tashuwuf atau shufi tapi ‘tazkiyatunnafsi’ yang intinya sama.

Jadi ajaran shufi tidak dilarang dan sangat baik untuk mencapai iman, Islam
dan ihsan asal tidak menyimpang dari ajaran syariat Allah SWI

Wallahu a’lam bisshawab
Sumber: Majalah Nurul Hayat Juli 2012

Incoming search terms:

  • hukum sholawat nariyah
  • shalawat nariyah dilarang
  • hukum shalawat nariyah
  • hukum membaca sholawat nariyah
  • hukum shalawatan
  • hukum sholawatan
  • shalawat nariyah
  • apakah shalawat nariyah dilarang
  • hukum solawat munjiah
  • apakah shalawat nariyah syirik
Similar articles